web page hit counter
back to top
Tuesday, January 6, 2026

Paus Desak Supremasi Hukum dan Akhir Kekerasan di Venezuela

Bapa Suci menyerukan agar kebaikan rakyat Venezuela diutamakan di atas kepentingan lain, sembari mengingatkan bahwa ibadah sejati menuntut solidaritas nyata bagi mereka yang menderita.

VATIKAN – Veritas Indonesia – Paus Leo XIV menyampaikan seruan mendesak bagi perdamaian dan stabilitas di Venezuela, meminta agar kebaikan rakyat ditempatkan di atas segalanya.

Dalam doa Angelus di hadapan ribuan peziarah di Lapangan Santo Petrus, Minggu (4/1/2026), Bapa Suci secara khusus menyoroti pentingnya penegakan supremasi hukum sesuai konstitusi negara tersebut di tengah krisis yang sedang berlangsung.

“Dengan keprihatinan mendalam, saya mengikuti perkembangan di Venezuela,” ujar Paus Leo XIV dari jendela Istana Apostolik.

Prioritaskan Rakyat dan Konstitusi

Menanggapi situasi yang memanas, Paus menekankan bahwa jalan kekerasan harus segera diakhiri demi mengejar keadilan. Beliau menggarisbawahi perlunya jaminan kedaulatan negara serta penghormatan terhadap hak asasi manusia dan hak sipil setiap warga negara.

“Kebaikan rakyat Venezuela yang terkasih harus menang di atas pertimbangan lainnya,” tegas Bapa Suci. “Hal ini harus mengarah pada upaya mengatasi kekerasan, dan pencarian jalan keadilan serta perdamaian yang menjamin kedaulatan negara, memastikan supremasi hukum yang tertuang dalam Konstitusinya.”

Paus juga memberikan perhatian khusus pada dampak ekonomi yang mencekik warga kecil. Beliau mengajak seluruh umat untuk bekerja sama membangun masa depan yang damai, stabil, dan harmonis, “dengan perhatian khusus kepada mereka yang paling miskin yang menderita akibat situasi ekonomi yang sulit.”

Mengakhiri seruannya untuk Venezuela, Paus mempercayakan doa bagi bangsa tersebut kepada perantaraan Bunda Maria dari Coromoto, serta Santo José Gregorio Hernández dan Santa Carmen Rendiles.

Tiada Ibadah Tanpa Kemanusiaan

Seruan politik dan kemanusiaan bagi Venezuela ini berakar kuat pada refleksi teologis yang disampaikan Paus sebelumnya dalam katekesenya.

Menjelang penutupan Pintu Suci Basilika Santo Petrus yang menandai berakhirnya Yubileum Harapan (Jubilee of Hope) dalam dua hari ke depan, Paus mengingatkan bahwa Inkarnasi Tuhan menuntut solidaritas konkret.

Mengutip Prolog Injil Yohanes, Paus Leo XIV menegaskan bahwa karena Tuhan telah menjadi daging (manusia), maka setiap manusia adalah cerminan-Nya.

“Tuhan telah menjadi daging; oleh karena itu, tidak ada ibadah yang otentik kepada Allah tanpa kepedulian terhadap kemanusiaan,” jelas Paus.

Beliau menekankan bahwa harapan Kristiani bukanlah sekadar optimisme, melainkan kepastian bahwa Tuhan menyertai perjalanan hidup manusia. Oleh karena itu, umat Katolik dipanggil untuk membela yang lemah dan memperjuangkan keadilan—sebuah pesan yang sangat relevan dengan seruannya bagi Venezuela.

Duka untuk Swiss dan Sapaan Peziarah

Selain Venezuela, Paus Leo XIV juga menyampaikan belasungkawa mendalam atas tragedi yang terjadi di Crans-Montana, Swiss.

“Saya ingin sekali lagi menyatakan kedekatan saya dengan mereka yang menderita akibat tragedi ini, dan menjamin doa saya bagi para pemuda yang meninggal, bagi yang terluka, dan bagi keluarga mereka,” ucap Paus.

Menutup perjumpaannya, Bapa Suci menyapa berbagai kelompok peziarah yang hadir, termasuk dari Slovakia, Zagreb, Malta, dan Prancis, seraya mengajak semua pihak untuk terus berdoa bagi bangsa-bangsa yang menderita akibat perang.

P. Kasmir Nema, SVD
P. Kasmir Nema, SVD
Jurnalis dan Koordinator Umum Media dan Komunikasi Serikat Sabda Allah (SVD), berbasis di Roma.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer