web page hit counter
back to top
Tuesday, January 6, 2026

Natal di Sentani, Utusan Khusus Presiden Zita Anjani Tegaskan Harmoni Iman dan Janjikan Dukungan Ganda bagi Gereja Kristus Terang Dunia

Sentani, Papua — Perayaan Natal 25 Desember 2025 di Paroki Katolik Kristus Terang Dunia Sentani berlangsung khidmat, hangat, dan sarat makna kebangsaan. Ribuan umat Katolik memadati gereja sejak pagi hari untuk mengikuti misa Natal yang tahun ini terasa istimewa dengan kehadiran Ibu Zita Anjani, S.Sos., M.Sc, Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia Bidang Pariwisata. Kehadirannya tidak hanya sebagai tamu negara, tetapi sebagai bagian dari perayaan iman yang menegaskan semangat persaudaraan lintas agama di jantung Tanah Papua.

Zita Anjani, S.Sos., M.Sc, Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia Bidang Pariwisata.

Ibu Zita hadir dan merayakan Natal bersama umat pada Kamis (25/12), di tengah suasana yang merefleksikan harmoni sosial khas Sentani. Gereja Kristus Terang Dunia berdiri berdampingan secara simbolik dengan Masjid Al-Aqsa, menjadi penanda kuat bahwa toleransi bukan sekadar slogan, melainkan realitas hidup masyarakat Papua. Dalam suasana itulah pesan-pesan Natal tentang damai, kasih, dan persatuan menemukan konteks kebangsaannya yang nyata.

Kehadiran Ibu Zita Anjani juga memiliki dimensi lain yang penting. Selain menjabat sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata, ia juga merupakan pengurus Yayasan Battuta Bangun Negeri (YBBN), yayasan yang menaungi Universitas Indonesia Mandiri (UIMandiri). Hal ini ditegaskan oleh Dr. Rustono Farady Marta, S.Sos., M.Med.Kom, Rektor Universitas Indonesia Mandiri Lampung Selatan, yang turut hadir dan memberikan penjelasan mengenai peran ganda Ibu Zita dalam bidang pendidikan, pembangunan sumber daya manusia, dan kebangsaan.

Dalam sambutannya, Ibu Zita menyampaikan ucapan Natal yang hangat dan penuh empati. “Atas nama Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata dan atas nama Presiden Republik Indonesia, izinkan saya mengucapkan Selamat Natal 25 Desember 2025 kepada seluruh umat Kristiani di Papua, khususnya umat Gereja Katolik Kristus Terang Dunia Sentani,” ujarnya, yang disambut tepuk tangan meriah dari umat yang memenuhi gereja.

Ia menegaskan bahwa Natal bukan hanya peristiwa liturgis, melainkan momentum spiritual untuk memperkuat persaudaraan sosial. Menurutnya, sukacita Natal seharusnya mengalir dalam tindakan konkret yang menumbuhkan solidaritas dan kebersamaan di tengah keberagaman. “Mari kita jadikan perayaan Natal ini sebagai momentum untuk saling bergandengan tangan, membangun persaudaraan, agar Papua dan Indonesia senantiasa penuh damai sejahtera dan harapan,” tuturnya.

Momen emosional terjadi ketika Ibu Zita menyinggung simbol toleransi yang begitu kuat di Sentani. Dengan nada haru, ia menyampaikan kekagumannya melihat Gereja Kristus Terang Dunia yang berdiri berhadapan dengan Masjid Al-Aqsa. “Saya terharu melihat gereja yang luar biasa megah, cantik, dan penuh harapan ini. Di depan ada Masjid Al-Aqsa, di seberang jalan ada Gereja Kristus Terang Dunia. Di Jakarta kita punya Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral, di Papua kita punya Masjid Al-Aqsa dan Gereja Kristus Terang Dunia Sentani,” ungkapnya. Pernyataan tersebut disambut dengan rasa bangga oleh umat dan tokoh-tokoh masyarakat yang hadir.

Dalam kesempatan itu pula, Ibu Zita menyampaikan komitmen konkret negara. Ia berjanji akan mengupayakan dukungan yang nilainya menjadi dua kali lipat bagi Gereja Kristus Terang Dunia, termasuk bantuan pengadaan sound system terbaik, sebagai bagian dari perhatian negara terhadap kehidupan beriman dan penguatan persaudaraan sosial di Papua. Janji tersebut menjadi harapan baru bagi umat yang selama bertahun-tahun berjuang menyelesaikan pembangunan gereja dengan keterbatasan ekonomi.

Ketua Panitia Pembangunan Gereja Kristus Terang Dunia Sentani, Stefanus Budiman, menjelaskan bahwa Gereja Kristus Terang Dunia Sentani dan Masjid Al-Aqsa merupakan simbol hidupnya toleransi dan harmoni antarumat beragama di Papua. Dan merupakan gerbang semua orang datang ke Papua sekaligus  menjadi simbol toleransi di tanah Papua.

Dalam rangkaian perayaan Natal di Paroki Kristus Terang Dunia Sentani,  dilakukan penyerahan bantuan simbolis berupa dukungan pembangunan gereja dan beasiswa dari Ibu Zita Anjani atas nama pemerintah, yang mencerminkan kepedulian terhadap aspek spiritual sekaligus pendidikan generasi muda Papua.

Selain itu, Pastor Paroki Kristus Terang Dunia, Philipus Elosok, OFM, didampingi Ketua Dewan Paroki I Philipus, Ketua III Bapak Petrus, serta Bapak Lorens Maturbongs, menyerahkan proposal resmi “Penyelesaian Pembangunan Gedung Gereja Kristus Terang Dunia Sentani dan Gereja Stasi Kampung Harapan Sentani”. Proposal tersebut diterima langsung oleh Ibu Zita Anjani dan disaksikan hampir 5.000 umat yang mengikuti misa Natal.

Ibu Zita juga menyerahkan bingkisan Natal bagi anak-anak panti asuhan sebagai wujud kepedulian sosial dan kasih Natal yang inklusif. Tindakan ini menegaskan bahwa kehadiran negara tidak hanya bersifat simbolik, tetapi menyentuh langsung kelompok rentan.

Ketua Panitia Pembangunan Gereja menambahkan bahwa Paroki Katolik Sang Penebus Sentani dikenal sebagai “pintu gerbang Papua”. Menurutnya, setiap orang yang datang ke Papua akan melihat Masjid Al-Aqsa di satu sisi dan Gereja Katolik di sisi lain, sebuah pemandangan yang mencerminkan wajah Papua yang damai. Ia juga mengungkapkan bahwa pembangunan gereja telah berlangsung selama tujuh tahun dengan dana yang sebagian besar berasal dari sumbangan kecil umat, sehingga prosesnya berjalan lambat.

Dalam kesempatan yang sama, ketua panitia Pembangunan gereja, Stefanus Budiman memoderatori penyerahan proposal resmi yang ditujukan kepada Presiden RI Prabowo Subianto dan Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, dengan harapan dukungan pemerintah pusat dapat mempercepat penyelesaian pembangunan gereja. Targetnya, pada akhir tahun 2026, Gereja Kristus Terang Dunia Sentani dapat diresmikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia, dengan kehadiran kembali Ibu Zita Anjani.

Perayaan Natal di Sentani tahun ini akhirnya menjadi lebih sebuah  perayaan iman yang menjelma sebagai pernyataan kuat tentang persaudaraan, toleransi, dan kehadiran negara di Tanah Papua, sebuah pesan damai yang bergema dari halaman gereja, melintasi batas agama, dan menyapa seluruh Indonesia.

Ditulis oleh: Paulus Laratmase – Koodinator Ikatan Dosen Katolik Indonesia Wilayah Papua

 

Lisa Esti Puji Hartanti
Lisa Esti Puji Hartanti
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer