web page hit counter
back to top
Thursday, March 5, 2026

Merengkuh Luka di Masa Prapaskah: Sebuah Panggilan untuk Pulih dan Mencintai

“Lihatlah, sekaranglah saatnya yang tepat; lihatlah, sekaranglah hari keselamatan.” (2 Korintus 6:2)


Penulis: Anastasia Sally Pobas 

Pernahkah terlintas di benak kita, bagaimana jika masa Prapaskah kali ini adalah kesempatan terakhir kita untuk berbalik arah? Kalimat ini mungkin terdengar dramatis, namun realitas kehidupan dan kematian adalah kepastian yang tak bisa ditawar. Sangat mungkin, beberapa orang yang tahun lalu masih duduk berdampingan dengan kita saat Misa Rabu Abu, kini telah berpulang menghadap Sang Kekekalan.

Oleh karena itu, masa Prapaskah bukanlah sekadar rutinitas kalender gerejawi atau tradisi musiman untuk berpuasa dan berpantang. Momentum ini adalah karunia yang mendesak, sebuah tawaran rahmat yang tak boleh dibiarkan berlalu begitu saja tanpa pertobatan sejati.

Mungkin saat ini kita sedang berdiri di tengah puing-puing duka; menghadapi himpitan problem hidup, rasa kehilangan yang menyesakkan, atau konflik keluarga. Sebagian dari kita mungkin sedang dikhianati, menghadapi karir yang pasang-surut, atau terjebak dalam kondisi finansial yang serba buntu.

Dalam titik terendah, kesepian, dan kegelapan itu, dunia seolah memaksa kita untuk menjadi keras, dingin, dan mati rasa. Namun, tanpa disadari, jiwa kita tidak pernah benar-benar netral. Jika kita tidak memilih untuk bertumbuh dalam kasih dan rahmat, kita akan perlahan hanyut dalam ketidakpedulian yang berujung pada kekeringan iman.

Bayangkan batin kita ibarat sebuah “padang gurun”. Tidak ada lagi keramaian, tepuk tangan, atau sorak-sorai duniawi. Yang tersisa hanyalah kesunyian, rasa terasing, dan kekeringan yang menyiksa. Namun, justru di sanalah Tuhan Yesus menanti. Dia tidak menuntut kita menjadi “pulih” atau “sempurna” terlebih dahulu untuk datang kepada-Nya. Salib yang berdiri di hadapan kita adalah bukti nyata bahwa Dia telah lebih dulu memeluk penderitaan paling dalam di dunia ini.

Di hadapan Salib itu, kita diajak untuk menyadari satu hal fundamental: tujuan doa yang sejati bukanlah untuk mendikte Tuhan agar mengabulkan daftar keinginan kita, melainkan membiarkan Tuhan mengubah diri kita yang sedang berdoa.

Prapaskah ini adalah saatnya melambungkan doa yang lebih berani. Bukan semata memohon agar luka segera sembuh, melainkan meminta kekuatan untuk memikul salib yang ada. Bukan sekadar menuntut keajaiban dan jalan keluar instan, melainkan memohon rahmat agar tetap teguh melangkah di tengah keterbatasan, kelemahan, ketidaklayakan, dan dosa-dosa kita. Kita berdoa bukan agar dunia bersikap lebih baik kepada kita, melainkan agar kita tetap memiliki hati untuk mengasihi dan menguatkan sesama, bahkan ketika kita sendiri sedang hancur.

Menemukan kekuatan dalam belas kasih berarti menyadari bahwa mengampuni mereka yang menorehkan luka bukanlah tanda kelemahan. Sebaliknya, itu adalah bukti bahwa kita telah menemukan cinta Yesus yang jauh melampaui rasa sakit kita. Yesus tidak meminta kita untuk pulih seketika; Dia hanya meminta kita untuk menghadapi segalanya bersama-sama dengan Dia.

Jangan sia-siakan hari ini dengan menunggu hingga semua masalah selesai baru kembali kepada-Nya. Biarkan Tuhan memeluk kita dalam sunyi, memberikan pengampunan, dan menyalakan kembali api cinta yang sempat meredup. Apa pun keadaan kita saat ini, ingatlah bahwa kita selalu diterima, disambut, dan dicintai apa adanya oleh-Nya.

Memilih keseriusan, memilih pertobatan, dan memilih untuk berjalan bersama Yesus detik ini juga, adalah keputusan paling bermakna yang bisa kita buat.

Tuhan memberkati.

(Renungan ini terinspirasi dari konten spiritual @NOFCATHOLIC_)


Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.

Maria Frani Ayu Andari Dias
Maria Frani Ayu Andari Diashttps://www.veritasindonesia.id/
Editor Content di Veritas Indonesia dan Dosen Ilmu Keperawatan Jiwa di Institut Kesehatan Suaka Insan. Sebagai profesional yang mengantongi sertifikasi Penulis Non Fiksi dari BNSP, ia juga aktif mengelola publikasi ilmiah sebagai Managing Editor untuk Jurnal Keperawatan Suaka Insan (SINTA 3) dan Jurnal Suaka Insan Mengabdi (SINTA 5).

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer