Di tengah kebisingan era digital dan rutinitas hidup yang serba instan, masa Prapaskah menawarkan lebih dari sekadar ritual menahan lapar, melainkan sebuah undangan radikal untuk kembali menemukan jati diri kita yang paling autentik.
Oleh: Frater Kordinus Budiman, SVD
Setiap tahun, kita merayakan berbagai konstelasi peristiwa iman, mulai dari Adven, Natal, Prapaskah, hingga Pentakosta, yang mengajak kita untuk membatinkan nilai-nilai transformatif demi kehidupan yang lebih baik. Namun, rutinitas merayakan peristiwa iman ini seharusnya memantik kita untuk berpikir lebih jauh, melampaui sekadar ritus tahunan. Peristiwa-peristiwa besar tersebut semestinya diterjemahkan ke dalam praktik hidup yang dinamis dan dihadapkan langsung dengan realitas kehidupan kita yang semakin kompleks.
Seringkali, gagasan tentang “lahir kembali” atau natalitas hanya dilekatkan pada perayaan Natal. Padahal, menyematkan pembaruan diri hanya pada satu momen tertentu berisiko membatasi hakikat kita sebagai manusia yang dinamis. Mengutip pandangan filsuf Hannah Arendt, kebaruan dan tindakan adalah upaya perwujudan diri menuju pribadi yang autentik, sekaligus cara kita mempromosikan kemanusiaan yang universal. Berbeda dengan sekadar bekerja untuk bertahan hidup atau berkarya untuk tujuan material, sebuah “tindakan” selalu mengedepankan kebebasan, spontanitas, dan komunikasi.
Dalam konteks masa Prapaskah, pertobatan adalah wujud nyata dari kebebasan dan spontanitas tindakan iman tersebut. Tindakan ini tidak eksklusif berada di ruang privat, tetapi harus mewujud di ruang publik. Masa Prapaskah semestinya menjadi fondasi pandangan kita untuk menebarkan kebajikan secara horizontal. Wujud nyatanya tidak hanya melalui puasa, tetapi juga lewat kerja membersihkan lingkungan, aksi kreatif di Gereja, hingga menyalurkan bantuan bagi mereka yang membutuhkan.
Tantangan Autentisitas di Era Digital
Menjadi manusia Prapaskah berarti kita mengoptimalkan kapasitas diri untuk menjadi pribadi yang autentik. Ini mencakup kemampuan berpikir logis, bertanggung jawab, mengakui kesalahan, memaafkan, bertobat, hingga ketangguhan bertahan di tengah krisis yang datang tanpa permisi seperti konflik global, kehilangan anggota keluarga, atau bencana alam.
Saat ini, kita hidup dalam masyarakat kontemporer yang diwarnai oleh ketidakstabilan identitas. Filsuf F. Budi Hardiman memetakan bahwa manusia kini terbelah ke dalam dua realitas: identitas jasmani (korporeal) dan identitas digital. Realitas yang paradoksal ini menantang kita untuk merefleksikan kembali posisi kita sebagai subjek dan citra Allah yang nyata. Seringkali, krisis identitas yang kita alami adalah akibat kegagalan menjembatani antara apa yang kita idealkan dengan apa yang sebenarnya kita lakukan di dunia nyata.
Di era modernitas ini, ada kecenderungan manusia untuk mengabaikan nilai religius dan mereduksi perayaan keagamaan menjadi sekadar rutinitas tanpa makna. Komunikasi instan di dunia digital seringkali berlalu tanpa saringan, menciptakan jurang antara hal yang penting dan tidak penting. Akibatnya, kita kerap menjadi manusia yang reaktif; hanya menyesal dan membela diri setelah sebuah kejadian buruk terjadi, alih-alih mengantisipasinya dengan pikiran yang jernih.
Tiga Pilar Komunikasi Prapaskah
Masa Prapaskah adalah momentum pembaruan yang mengingatkan kita bahwa tindakan manusia memiliki tujuan. Masa yang singkat ini adalah kesempatan bagi umat Katolik untuk mengasah kesetiakawanan, menyadari kebutuhan tubuh melalui puasa dan pantang, serta merefleksikan teks-teks Kitab Suci yang menyerukan pertobatan sejati.
Untuk mencapai hidup yang autentik tersebut, ada tiga bentuk komunikasi yang patut kita refleksikan dan hidupi:
Pertama, komunikasi dengan Tuhan. Doa adalah jembatan perjumpaan dengan Sang Pencipta. Dalam doa, kita memiliki hak untuk memohon dan mengutarakan isi hati maupun pikiran kita. Namun, kita juga memikul kewajiban untuk bersikap sabar dan tabah ketika permohonan itu belum terjawab. Keseimbangan inilah yang menjaga relasi tak terbatas kita dengan-Nya.
Kedua, komunikasi dengan diri sendiri. Di tengah kebisingan zaman, kita sering mengabaikan diri sendiri dan lupa merefleksikan kapasitas, kekurangan, serta kelebihan kita. Melihat ke dalam diri sendiri adalah hal yang sangat mendesak agar kita mampu menempatkan diri dengan baik di tengah kehidupan bermasyarakat.
Ketiga, komunikasi dengan sesama. Digitalisasi seringkali membuat kita fobia terhadap interaksi tatap muka. Kita berisiko mereduksi kedalaman “wajah” sesama, meminjam istilah Emanuel Levinas, hanya menjadi representasi di layar digital. Relasi jasmaniah dan pertemuan langsung tidak boleh kehilangan tempatnya di hati kita.
Ketiga bentuk komunikasi ini adalah sisi lain dari refleksi Prapaskah yang melengkapi praktik puasa dan pantang kita. Pada akhirnya, semangat pembaruan (natalitas) harus terus dimaknai selama Prapaskah melalui jalan pertobatan. Dengan terus mengeksplorasi diri dan berjuang menghidupkan harapan yang baik, kita membuka jalan seluas-luasnya untuk menjadi manusia Prapaskah yang sungguh autentik.
Sumber:
1)Paul Budi Kleden, Di tebing Waktu: Dimensi Sosio-Politis Perayaan Kristiani (Maumere, Penerbit Ledalero, 2009), hlm. 109
2)Mathias Daven, ” Politik Pemusnahan dan Pemusnahan Politik: Telaah Kritis Atas Konsep Hannah Arendt Tentang Totalitarisme”, Jurnal Ledalero, 14:1 (Ledalero: Juni 2015), hlm. 146-148
*Frater kongregasi SVD Ledalero yang sekarang menjalankan praktik Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Chile.
Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.







