Sama seperti seorang ayah yang diam-diam melepaskan pegangannya pada sepeda sang anak, Tuhan terkadang membiarkan kita mengayuh sendiri di tengah kerasnya dunia, hanya agar kita sadar seberapa hebat talenta yang telah Ia berikan.
Oleh: Albert Santoso
“Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:20)
Saya teringat kembali pada sebuah memori masa lalu ketika adik saya berusia sekitar empat tahun. Suatu hari, ayah membelikannya sebuah sepeda baru beroda empat- dua roda utama dengan sepasang roda bantu kecil di sisi belakang. Tentu saja, adik saya melonjak kegirangan menyambut mainan barunya. Namun, karena itu adalah pengalaman pertamanya, ia belum berani mengayuh sendirian. Ia selalu meminta ayah untuk mengajari, memegangi, dan menemaninya di setiap putaran pedal.
Seiring berjalannya waktu, adik saya semakin mahir. Sepeda roda empat itu pun bertransformasi menjadi sepeda roda dua sungguhan. Roda bantu di belakang akhirnya dilepas karena ayah melihat adik saya sudah mampu menjaga keseimbangannya dengan baik. Meskipun begitu, ayah tetap berlari kecil mendampingi di sisinya; bukan karena adik saya tidak bisa, melainkan karena ia belum memiliki rasa percaya diri untuk mengayuh sepedanya seorang diri.
Hingga tibalah suatu hari ketika ayah memutuskan untuk diam-diam melepaskan pegangannya dan membiarkan adik saya melaju di depan. Ia ingin menguji apakah jagoan kecilnya itu benar-benar sudah siap mandiri. Pada awalnya, adik saya mengayuh dengan lancar. Namun, setelah melaju beberapa meter, ia menoleh ke belakang dan menyadari bahwa ayahnya sudah tidak lagi berada di sampingnya.
Seketika, rasa panik dan takut menyergap hatinya. Emosi itu seketika menghancurkan fokusnya, membuat stang sepedanya oleng, dan merusak keseimbangannya. Tepat pada detik ketika adik saya nyaris terjerembap ke aspal, ayah saya yang ternyata berlari di belakangnya dengan sigap melompat, menangkap tubuh mungil itu, dan memastikannya tidak terluka sedikit pun.
Sebagai pengikut Kristus, perjalanan hidup kita sering kali menyerupai cerita di atas. Tuhan telah membekali setiap dari kita dengan talenta-talenta khusus untuk mewujudkan kehendak-Nya di dunia ini. Namun, tak jarang kita merasa seperti anak kecil yang baru kehilangan roda bantunya. Saat kita mulai melangkah, kelemahan manusiawi dan berbagai rintangan di depan mata membuat kita bimbang, khawatir, dan merasa sendirian. Kita panik saat merasa pertolongan tidak terlihat.
Padahal, kenyataannya tidaklah demikian. Percayalah, Sang Bapa selalu berlari di belakang kita, mengawasi setiap kayuhan kehidupan kita. Dia mungkin membiarkan kita berusaha sendiri agar kita bertumbuh dan belajar memaksimalkan talenta kita, namun Ia tidak akan pernah sedetik pun meninggalkan kita. Bahkan ketika kita mulai oleng dan terjatuh, tangan-Nya selalu siap sedia merengkuh dan menolong kita tepat pada waktunya.
Doa: Ya Tuhan, terima kasih atas berkat dan talenta khusus yang Engkau titipkan kepada kami masing-masing, agar kami dapat bertumbuh dan berkarya sesuai kehendak-Mu. Ampuni kami, ya Bapa, jika kami kerap merasa bimbang dan membiarkan ketakutan menutupi pandangan kami untuk melakukan hal-hal besar. Bimbinglah hati kami dan sertailah langkah kami senantiasa. Mampukan kami untuk berani mengayuh kehidupan ini dengan talenta yang kami miliki, dengan keyakinan penuh bahwa Engkau selalu menjaga kami. Amin.
Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.







