Luka yang Tak Sembuh oleh Kata Maaf

Kata maaf memang bisa terucap dengan mudah, tetapi sudahkah kita menyadari bahwa luka akibat tajamnya lisan sering kali meninggalkan lubang yang tak pernah benar-benar tertutup?


Oleh: Albert Santoso

“…Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia membakar hutan yang besar.” (Yakobus 3:5-6)

Ada sebuah kisah klasik tentang seorang anak laki-laki yang memiliki tabiat buruk: ia gemar melontarkan kata-kata kasar. Entah saat sedang marah atau sekadar bercanda, lisannya sering kali melukai orang-orang di sekitarnya. Teguran dan nasihat dari lingkungan sekitar seolah menguap begitu saja. Alih-alih merenung, anak itu justru kerap membentak balik mereka yang berniat baik mengingatkannya.

Kabar tentang perangai buruk ini akhirnya sampai ke telinga sang ayah yang baru saja pulang dari luar kota. Alih-alih memarahi putranya dengan keras, sang ayah memikirkan sebuah cara yang tak biasa untuk memberikan pelajaran berharga.

Keesokan paginya, ia memanggil putranya ke halaman belakang rumah. Ia menyerahkan sekantong paku dan sebuah palu kepada anak tersebut.

“Untuk apa paku-paku ini, Ayah?” tanya sang anak kebingungan.

Sang ayah hanya tersenyum tipis. “Pergilah ke pagar kayu di ujung halaman itu. Ayah minta, setiap kali kamu merasa marah atau hendak mengucapkan kata-kata kasar kepada orang lain, tancapkanlah satu paku ke pagar tersebut.”

Meski diliputi kebingungan dan rasa enggan, anak itu menuruti perintah ayahnya. Hari demi hari berlalu. Pada awalnya, ia menancapkan puluhan paku dalam sehari. Namun seiring berjalannya waktu, ia mulai belajar mengendalikan amarahnya. Jumlah paku yang ditancapkan setiap harinya pun perlahan berkurang, hingga tiba suatu hari di mana ia tidak menancapkan satu paku pun. Ia berhasil menahan lisannya.

Dengan bangga, ia melaporkan pencapaian itu kepada ayahnya.

“Bagus sekali, Nak,” puji sang ayah. “Sekarang, tugasmu yang kedua: setiap kali kamu berhasil menahan diri untuk tidak berkata kasar sepanjang hari, cabutlah satu paku dari pagar itu.”

Hari-hari kembali berganti. Setelah sekian lama, anak itu akhirnya berhasil mencabut seluruh paku yang pernah ia tancapkan. Ia segera memanggil ayahnya untuk menunjukkan pagar yang telah bersih dari paku tersebut.

Sang ayah berjalan menghampiri pagar kayu itu, mengelus permukaannya yang kini penuh dengan lubang, lalu menatap mata putranya dalam-dalam.

“Kamu telah melakukan hal yang hebat, Nak. Tapi coba perhatikan pagar ini,” ucap sang ayah lembut. “Pagar ini tidak akan pernah kembali seperti semula. Ada lubang-lubang yang tersisa di sana.”

Anak itu terdiam, mendengarkan dengan saksama.

“Ketika kamu melontarkan kata-kata kasar kepada orang lain, kamu meninggalkan luka di hati mereka, persis seperti paku yang melubangi kayu ini. Kamu selalu bisa mengucapkan kata ‘maaf’ setelah mencaci maki, layaknya mencabut paku dari pagar. Namun, bekas lukanya akan tetap ada di sana.”

Tenggorokan anak itu tercekat. Metafora sederhana itu menghantam kesadarannya. Penyesalan seketika membanjiri relung hatinya, menyadarkannya akan banyaknya “lubang” yang telah ia buat di hati teman-teman dan keluarganya selama ini. Sejak hari itu, ia berjanji untuk tidak lagi membiarkan lisannya menjadi senjata yang melukai orang lain.

Kisah ini adalah cermin bagi kita semua. Sering kali, dalam pusaran emosi atau bahkan di balik tameng “hanya bercanda”, kita meremehkan kekuatan kata-kata. Kita lupa bahwa lisan memiliki daya hancur yang tak kasat mata. Sebuah kalimat yang ditafsirkan sebagai penghinaan dapat bersarang di ingatan seseorang selama bertahun-tahun.

Luka fisik mungkin bisa diobati dan sembuh tanpa bekas, tetapi luka batin akibat ucapan yang tajam membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk pulih. Oleh karena itu, mari sejenak mengambil jeda sebelum berbicara. Pertimbangkanlah setiap kata yang hendak kita lepaskan, agar lisan kita menjadi penyejuk, bukan paku yang menorehkan luka abadi di hati sesama.


Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.

Maria Frani Ayu Andari Dias
Maria Frani Ayu Andari Diashttps://www.veritasindonesia.id/
Editor Content di Veritas Indonesia dan Dosen Ilmu Keperawatan Jiwa di Institut Kesehatan Suaka Insan. Sebagai profesional yang mengantongi sertifikasi Penulis Non Fiksi dari BNSP, ia juga aktif mengelola publikasi ilmiah pada beberapa jurnal ilmiah dengan latar belakang keilmuan keperawatan.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer