Di tengah gempuran budaya flexing dan obsesi materialisme masa kini, pernahkah kita berhenti sejenak untuk mempertanyakan: apakah kekayaan yang kita kejar sungguh membawa kepenuhan hidup, atau sekadar ilusi yang berujung pada kehampaan?
Penulis: Albert Santoso
“Karena itu, sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu—dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami—demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini.” (2 Korintus 8:7)
Apa yang terlintas di benak kita ketika mendengar predikat “orang kaya” disematkan kepada seseorang? Sebagian besar dari kita tentu akan membayangkan sosok dengan aset finansial yang melimpah; seseorang yang memiliki privilese untuk membeli apa saja yang ia inginkan. Penilaian tersebut tidaklah salah, namun jelas belum menyentuh esensi kekayaan yang seutuhnya.
Dalam kacamata duniawi, kata “kaya” memang direduksi maknanya sebatas pada kepemilikan materi. Seseorang dianggap kaya apabila ia mampu memenuhi seluruh hierarki kebutuhannya dengan mudah. Mulai dari kebutuhan primer seperti sandang, pangan, dan papan, hingga kebutuhan tersier yang berfungsi sebagai hiburan dan pemenuhan harga diri (self-esteem). Sayangnya, kekayaan dengan definisi sempit ini sering kali terjebak pada pemuasan ego pribadi semata.
Ada pepatah yang mengatakan, “Manusia membutuhkan saudara dan teman, sedangkan uang tidak membutuhkan keduanya.” Ungkapan ini menjadi alarm yang mengingatkan kita bahwa uang, jika dijadikan sebagai tujuan utama, justru dapat mengalienasi kita dari hubungan sosial yang bermakna. Ketika kita terlalu mementingkan akumulasi harta, tanpa sadar kita sedang membangun tembok yang menjauhkan diri dari orang-orang terdekat.
Mari kita renungkan sejenak: apa makna dari tumpukan benda mati di sekeliling kita jika jiwa kita terisolasi dari kehangatan relasi antarmanusia? Harta benda hanya mampu memberikan distraksi dan penghiburan yang fana. Mereka tidak memiliki empati untuk merangkul atau memberikan ketenangan sejati ketika kita dihadapkan pada masa-masa sepi dan krisis. Lebih ironis lagi, kekayaan duniawi sering kali menjadi magnet bagi relasi-relasi yang transaksional dan semu, di mana orang-orang datang bukan untuk sosok manusianya, melainkan untuk apa yang dimilikinya.
Lantas, bagaimana seharusnya kita bersikap? Apakah kekristenan menentang umatnya untuk menjadi sukses dan kaya raya secara finansial?
Jawabannya: tentu saja boleh, namun dengan perubahan paradigma yang radikal. Injil Matius 6:21 dengan tegas mengingatkan, “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Kunci utamanya terletak pada orientasi hati dan pikiran. Jika hidup kita disetir oleh uang, maka eksistensi kita akan diperbudak olehnya. Sebaliknya, jika hati dan pikiran kita berakar kuat di dalam Kristus, uang hanyalah sekadar alat. Kita tidak akan terikat, apalagi merasa keberatan, jika sewaktu-waktu Tuhan memanggil kita untuk menggunakan titipan harta tersebut demi mewujudkan kehendak-Nya.
Oleh karena itu, panggilan terbesar kita bukanlah untuk sekadar menumpuk kekayaan fana, melainkan menjadi kaya di dalam Kristus. Menjadi kaya secara duniawi mungkin memberi kita kenyamanan fisik yang sementara. Namun, menjadi kaya dalam Kristus memastikan kita mengumpulkan harta surgawi yang kekal, sekaligus dianugerahi kesehatan jiwa melalui persaudaraan yang tulus, murni, dan penuh kasih.








