Di balik kebebasan kita untuk memilih dan berbuat salah, tersimpan sebuah misteri besar tentang mengapa Sang Pencipta lebih memilih mengambil risiko melihat manusia berdosa daripada menciptakan kita sebagai entitas tanpa nurani.
Penulis: Albert Santoso
Tuhan menciptakan segala sesuatu sempurna pada porsinya, termasuk manusia yang dianugerahi kehendak bebas. Namun, sejak remaja hingga beberapa waktu belakangan, sebuah pertanyaan besar kerap mengusik benak saya: mengapa Tuhan mau memberikan kehendak bebas jika Ia, dalam kemahatahuan-Nya, sudah melihat bahwa manusia pada akhirnya akan jatuh ke dalam dosa dan mengecewakan-Nya?
Mengapa Ia tidak merancang manusia layaknya robot yang diprogram untuk selalu menaati kehendak-Nya tanpa ada ruang untuk keberatan, penolakan, apalagi pemberontakan? Mengapa Tuhan seolah mau bersusah payah merenda berbagai skenario penyelamatan hanya untuk membawa manusia kembali kepada-Nya? Dulu, dalam kenaifan, saya bahkan sempat berpikir bahwa Tuhan mungkin sedang terjebak dalam kebosanan kosmis sehingga Ia menciptakan drama kehidupan semacam ini. Tentu saja, pemikiran dangkal itu keliru.
Jika kita menelaah lebih dalam, kehendak bebas adalah batas demarkasi yang membedakan manusia dari makhluk ciptaan lainnya, seperti hewan dan tumbuhan. Manusia adalah puncak mahakarya Tuhan. Oleh karena itu, Ia menganugerahkan akal budi. Tujuannya jelas: agar manusia memiliki otonomi untuk memilah mana yang benar dan salah, mempertimbangkan kausalitas dari setiap tindakan, serta melakukan kebaikan berdasarkan kesadaran penuh, bukan insting semata. Sayangnya, sebagai makhluk yang terbatas, akal budi manusia pun tidak luput dari ketidaksempurnaan. Keputusan-keputusan kita sering kali terdistorsi oleh hawa nafsu dan keinginan daging, yang pada gilirannya menyeret kita ke dalam kesalahan dan dosa.
Lantas, mengapa Tuhan tetap enggan menciptakan kita sebagai “robot” yang patuh mutlak? Jawabannya bermuara pada hakikat cinta kasih. Tuhan begitu mengasihi manusia sehingga Ia menolak untuk memaksakan kehendak-Nya. Cinta yang dipaksakan bukanlah cinta. Yang Ia dambakan adalah kasih yang lahir dari ketulusan hati—ketika manusia mencintai Sang Pencipta karena mereka benar-benar mengerti dan merasakan kebaikan-Nya melalui akal dan budi mereka sendiri.
Tuhan bukanlah sebuah sistem komputer yang berjalan di atas algoritma biner dan kode yang kaku. Ia adalah Tuhan yang Mahatahu, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia. Ia rela menunggu. Ia terus memberikan bukti-bukti konkret akan cinta-Nya, menanti dengan sabar agar manusia tergerak untuk kembali ke pelukan-Nya atas dorongan nurani mereka sendiri, tanpa sekelumit pun paksaan.
Inilah mengapa, meski manusia berulang kali jatuh ke dalam kubangan dosa dan harus menanggung konsekuensi atas perbuatannya, Tuhan sama sekali tidak pernah mencuci tangan dan meninggalkan manusia di tengah keterpurukannya. Tuhan selalu mengulurkan tangan-Nya, memberikan anugerah agar manusia mampu bangkit dan hidup lebih baik.
Mari kita lihat kisah Adam dan Hawa. Ketika mereka menyadari ketelanjangan akibat memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat, Tuhan tidak membiarkan mereka terkungkung dalam rasa malu. Alih-alih mengabaikan, Ia justru membuatkan mereka pakaian dari kulit binatang untuk menutupi ketelanjangan itu. Lebih jauh lagi, ketika umat manusia masih terbelenggu dalam dosa, Tuhan tidak tinggal diam. Ia bahkan merelakan Anak-Nya yang tunggal untuk menjadi jalan penebusan bagi seluruh umat manusia.
Oleh karena itu, ketika kita jatuh dan melakukan kesalahan, jangan pernah membiarkan diri kita tenggelam dalam keputusasaan. Selama napas masih berembus, selalu ada waktu dan rahmat yang Tuhan sediakan bagi kita untuk memperbaiki diri, meski kita tetap harus berjiwa besar menanggung konsekuensi dari kesalahan tersebut. Begitu pula saat kita tanpa sengaja mengulangi dosa yang sama, jangan pernah menyerah untuk memohon ampunan-Nya. Sebab pada akhirnya, esensi sejati dari Tuhan adalah kasih itu sendiri.








