Di balik tegarnya jubah para pelayan Tuhan, tersimpan kerapuhan seorang manusia biasa; sebuah kisah yang akan mengubah cara kita memandang, mengkritik, dan menghargai pengorbanan mereka di kebun anggur Gereja.
Penulis: Sr. Imelda Seran SCSC
Pagi itu, suasana di rumah Bapak Mikhael dipenuhi dengan aroma kopi panas yang baru diseduh. Ia duduk di meja kecil, menghisap rokok sambil menatap kepulan asap yang melayang di udara. Di hadapannya, sang putri yang baru pulang berlibur dari biara, duduk tenang menikmati ubi bakar yang masih hangat. Memecah kesunyian, Bapak Mikhael mulai bercerita tentang pertemuan pastoral yang baru saja diikutinya.
“Dua minggu lalu, kami mengadakan pertemuan dengan pastor paroki,” katanya dengan nada berapi-api. “Saya kritik habis-habisan pastor itu. Dia tidak pernah mengunjungi umat, hanya tahu marah-marah dan menuntut kami, para guru agama, untuk melakukan banyak hal. Sementara itu, dia sendiri tidak pernah turun ke akar rumput. Kami ini ibarat baju dalam yang langsung bersentuhan dengan kulit; kami yang paling tahu keadaan umat. Pastor itu seperti jaket yang hanya dipakai menghangatkan tubuh jika musim dingin tiba.”
Putrinya mendengarkan dengan saksama. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya menunduk. Melihat putrinya diam, Bapak Mikhael bertanya pelan, “Bagaimana dengan tugas-tugasmu di sana? Semua baik-baik saja?”
Sang putri meletakkan gelas tehnya. Ia menatap mata ayahnya dengan nanar dan berkaca-kaca. “Semua yang Bapa katakan kepada imam itu, saya alami sendiri di tempat tugas,” suaranya bergetar. “Umat menuntut saya melakukan segalanya. Dan Bapa tahu siapa saya. Bapa tidak melahirkan seorang malaikat, melainkan seorang putri yang penuh dengan kerapuhan. Kadang saya lelah dengan tuntutan umat, tetapi saya mencintai panggilan saya. Ada kalanya saya ingin meninggalkan tempat tugas, tetapi saya sudah mengikrarkan janji setia pada Tuhan.”
Kata-kata putrinya meluncur bagai petir di siang bolong. Bapak Mikhael terdiam kaku. Lidahnya kelu. Ia hanya bisa menunduk menatap cangkir kopinya yang kini terasa jauh lebih pahit. Dalam keheningan yang menyayat itu, sang putri bangkit meninggalkan meja sambil berucap lirih, “Ternyata perlakuan umat terhadap saya di sana, adalah cerminan sikap Bapa terhadap para imam dan biarawan-biarawati di sini.”
Betapa ia telah salah menilai dan memvonis kaum terpanggil. Dalam hati ia menjerit, “Tuhan, ampuni saya. Saya baru saja menghancurkan hidup putriku sendiri dengan mulutku.”
Sejak hari yang menyesakkan dada itu, Bapak Mikhael berubah. Dalam setiap pertemuan pastoral, ia kini menjadi perisai bagi kaum terpanggil. Ia sering membagikan pesan yang menghentak nurani banyak orang: “Jika engkau belum mampu mempersembahkan putra dan putrimu untuk Gereja, jangan pernah menuntut terlalu keras dari Gereja. Karena ketika engkau menuntut, ingatlah bahwa yang keluarga mereka persembahkan kepada Tuhan bukanlah malaikat turun dari langit, melainkan darah daging yang sama-sama penuh kelemahan. Hanya karena dikuduskan Tuhan sajalah, mereka memikul tanggung jawab yang berat itu.”
Kisah Bapak Mikhael adalah cerminan realitas Gereja kita saat ini. Ketika Yesus terjatuh di jalan salib, berpeluh darah, dan tak berdaya memikul beban yang berat, hanya sedikit tangan yang terulur membantu dan menghibur. Kerap kali, kritik dan ketidakpuasan umat terasa lebih menyakitkan daripada kasih yang telah dikorbankan oleh para pelayan Tuhan. Mereka dituntut untuk sempurna, padahal mereka hanya bermodalkan kata “setia”-berjuang untuk terus bertahan meski rapuh, tetap berdiri meski goyah, dan tetap melangkah meski tak pasti.
Kebun anggur Tuhan mengingatkan kita pada sabda Yesus: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit” (Luk. 10:2). Kaum terpanggil menerima rahmat pengudusan untuk melayani, namun hal ini tidak membuat mereka kebal dari dosa dan kelelahan manusiawi. Seperti kata Santo Paulus, “Roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Mat. 26:41). Umat berharap para pelayan ini menjadi tempat bersandar, namun sering lupa bahwa mereka juga butuh dukungan moral, doa yang tulus, dan telinga yang mau mendengar agar mereka tetap teguh menunaikan perutusannya.
Senada dengan semangat Injil, Paus Fransiskus pernah menegaskan bahwa kita dipanggil untuk menjadi saudara yang saling menegur dengan kasih, bukan bertindak sebagai hakim yang tanpa ampun.
Masa puasa dan pertobatan ini adalah momentum berharga untuk merenungkan kembali: sejauh mana kita telah berkontribusi melindungi mereka yang melayani kita? Santa Teresa dari Lisieux berkata, “Semua panggilan adalah panggilan untuk cinta.” Jika hidup kaum biarawan-biarawati adalah manifestasi kasih Tuhan untuk Gereja, marilah kita menjadi pelindung bagi mereka lewat kata-kata, tindakan, dan doa kita yang tanpa henti.
Veritas Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang meneguhkan iman dan menyuarakan kebenaran. Kami mengundang Anda, para pembaca setia, untuk turut mendukung operasional pelayanan ini melalui donasi ke rekening BCA 6440054739 a.n. Lucia Margaretha Audrey Niron (Bendahara Veritas Indonesia). Agar donasi Anda dapat kami terima dan catat dengan baik, mohon kirimkan bukti transfer kepada Editor Konten kami, Maria Frani Ayu, di nomor 081230038196. Sedikit dari Anda adalah wujud nyata kebersamaan dalam pelayanan ini.








