Pernahkah terbayang, saat kita tertidur lelap, saudara-saudari kita di Timur Tengah justru dicekam ketakutan di bawah bayang-bayang perang? Di tengah keheningan masa Prapaskah ini, para Uskup se-Asia (FABC) menolak bungkam dan menggemakan seruan damai dari Bangkok. Pesan mereka bukanlah sekadar urusan diplomasi, melainkan ketukan keras bagi nurani kita: di tengah dunia yang kian terluka, bersediakah kita merespons panggilan sebagai anak-anak Allah yang membawa damai?
Veritas Indonesia-5 Maret 2026. Pernahkah kita menyadari bahwa nun jauh di Timur Tengah sana, tangis dan ketakutan masih menjadi makanan sehari-hari saudara-saudari kita? Situasi peperangan yang kembali memanas baru-baru ini tidak hanya mengundang keprihatinan global, tetapi juga duka mendalam bagi Gereja Katolik di Asia. Dari ibu kota Thailand, Bangkok, Komite Sentral Federasi Konferensi Para Uskup Asia (FABC) yang berkumpul dalam semangat persekutuan sinodal menyuarakan kegelisahan hati mereka yang mendalam. Pada tanggal 3 Maret 2026, FABC secara resmi merilis pernyataan sikap menyikapi eskalasi konflik di Timur Tengah. Pesan mereka begitu jelas dan menggetarkan hati, mengingatkan kita semua pada sabda abadi yang berbunyi, “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” (Mat 5:9).

Siklus saling serang dan aksi bombardir yang belakangan ini melibatkan negara-negara besar di tingkat global maupun regional sungguh berisiko tinggi. Jika dibiarkan, kawasan tersebut dan bahkan dunia bisa terjerumus ke dalam krisis dengan konsekuensi kemanusiaan serta ekonomi yang dampaknya tak terhitung. Sebagai sebuah benua, kita di Asia sangat prihatin terhadap konflik ini. Menggemakan seruan mendesak Paus Leo XIV, para uskup Asia mengingatkan sebuah kebenaran yang sering dilupakan, yakni bahwa perdamaian mustahil dibangun di atas ancaman atau senjata yang hanya menabur kehancuran, rasa sakit, dan kematian. Kita harus sadar bahwa stabilitas sejati tidak akan pernah lahir dari ketakutan, dan keadilan takkan bisa ditegakkan melalui jalan kekerasan. Hanya melalui dialog yang tulus, bertanggung jawab, dan berkelanjutanlah jalan menuju perdamaian yang adil dan langgeng dapat terbuka.
Lantas, siapa yang paling menderita ketika ego peperangan terus dibiarkan berbenturan? Dari konteks Asia kita yang ditandai oleh kekayaan keberagaman agama, tradisi budaya yang mendalam, serta pergumulan harian kaum miskin, kita belajar bahwa perdamaian itu bukanlah sekadar ketiadaan perang. Perdamaian adalah buah dari keadilan, hasil dari dialog, dan proses membangun kepercayaan yang sabar di antara bangsa-bangsa. Sebaliknya, perang selalu melukai mereka yang paling rentan secara tidak proporsional, seperti kaum miskin, para pengungsi, anak-anak tak berdosa, dan tentu saja generasi masa depan kita.
Melihat kenyataan pahit ini, dalam kesetiaan pada jalan yang telah didiskern bersama, Gereja-Gereja di Asia dengan rendah hati menyampaikan seruan mendesak mereka. Para uskup menuntut semua pihak untuk memiliki tanggung jawab moral dengan segera menghentikan segala bentuk permusuhan dan menahan diri dari eskalasi yang hanya akan membawa penderitaan yang tak bisa dipulihkan. Pemulihan diplomasi harus didesak sebagai sarana utama penyelesaian konflik, karena dialog, betapapun sulitnya, adalah satu-satunya jalan keluar yang menghargai kedaulatan negara dan martabat bangsa-bangsa. Lebih dari itu, solidaritas antaragama juga harus terus didorong, khususnya di antara para pemimpin tradisi keagamaan di kawasan tersebut, untuk bersatu padu memberi kesaksian tentang betapa sucinya kehidupan manusia. Pada akhirnya, kita semua diajak untuk memperbarui komitmen berdiri bersama kaum miskin dan korban perang yang jeritannya sering diabaikan demi hitung-hitungan geopolitik, karena penderitaan mereka harus selalu menjadi pusat dari setiap upaya perdamaian.

Klik FABC Statement on the Escalating Conflict in the Middle East untuk memperoleh dan membaca lengkap dokumen resmi yang sudah diterbitkan oleh Komite Sentral Federasi Konferensi Para Uskup Asia (FABC).








