web page hit counter
back to top
Friday, February 13, 2026

“Bale Nagi” Sang Gembala: Air Mata Harapan dan Seruan Persatuan di Penahbisan Uskup Larantuka

Veritas Indonesia, 12 Februari 2026-Larantuka, Flores Timur-Angin perubahan berhembus lembut namun pasti di bumi Larantuka hari ini. Ribuan pasang mata menjadi saksi sejarah ketika Mgr. Yohanes Hans Monteiro resmi menerima tongkat penggembalaan sebagai Uskup Larantuka yang baru. Momen sakral ini bukan sekadar pergantian jabatan, melainkan sebuah penegasan iman yang disaksikan langsung oleh Monsinyur Michael, pelaksana tugas Kedutaan Vatikan untuk Indonesia, yang membawa keputusan langsung dari pimpinan tertinggi Gereja Katolik.

Dalam suasana yang khidmat itu, Mgr. Budi Kleden, SVD menyampaikan homili yang tidak hanya menyentuh hati, tetapi juga menggetarkan nurani sosial umat yang hadir.

Ada sebuah nostalgia manis yang diungkapkan Mgr. Budi. Siapa sangka, pada penahbisan pendahulunya 22 tahun lalu, Bapak Uskup Frans Kopong Kung, Romo Hans Monteiro yang saat itu masih muda, tampil sebagai komentator perayaan. Kini, “sang komentator” itu berdiri di altar yang sama, siap melanjutkan estafet kepemimpinan dari Mgr. Frans yang telah melayani dengan hati seorang bapa sejak tahun 2004. Jika Mgr. Frans dahulu memilih dua moto untuk merangkul umat di wilayah yang rawan bencana ini, Uskup Hans datang dengan satu moto yang singkat namun sarat makna: Unum, Unus, Una.

Satu Moto untuk Semua Luka

Mgr. Budi Kleden mengupas tajam moto Uskup baru ini. Dalam bahasa Latin, kata “Satu” diulang tiga kali dalam tiga gender berbeda. Ini bukan sekadar permainan kata, melainkan sebuah sapaan bagi kemanusiaan yang utuh. Moto ini seolah menyentuh setiap sudut kehidupan, mengingatkan bahwa di bawah kolong langit yang sama, kita semua adalah anak-anak dari Tuhan yang satu.

Namun, di balik indahnya persatuan, Mgr. Budi mengingatkan adanya jurang pemisah yang nyata di tengah masyarakat kita. “Ada jurang antara mereka yang hidup dalam kelimpahan dan mereka yang merana dalam kemiskinan ekstrem,” tegasnya. Seruan ini menohok realitas sosial kita: tembok pemisah suku, politik, hingga kecurigaan antarumat beragama yang masih sering terjadi.

Tiga Dimensi Persatuan yang Menggugah

Melalui motonya yang terinspirasi dari Surat Santo Paulus, Uskup Hans mengajak umat menyelami tiga dimensi penting.

Pertama, Unum Corpus (Satu Tubuh). Gereja diingatkan untuk tidak membiarkan satu kelompok mendominasi. Persatuan sejati berarti merangkul mereka yang “kalah”, memberi perhatian pada anak-anak yang menderita akibat kekerasan, serta mereka yang miskin harta maupun miskin empati.

Kedua, Unus Spiritus (Satu Roh). Ini adalah seruan keberanian. Roh Kudus bukan hanya untuk ritual di gereja, melainkan kekuatan untuk melawan ketidakadilan. Dengan lantang, homili ini menyerukan pembebasan petani dan nelayan dari cengkeraman tengkulak, membebaskan keluarga dari jeratan pinjaman online (pinjol) dan koperasi harian yang mencekik, hingga keberanian melawan perdagangan orang dan perusakan alam. “Perhatian pada kelestarian bumi adalah bagian utuh dari tanggung jawab semua yang membawa persembahan ke altar Tuhan,” ujar Mgr. Budi mengingatkan bahwa roti dan anggur adalah hasil bumi yang harus dijaga.

Ketiga, Una Spes (Satu Harapan). Di tengah ancaman putus asa, api harapan harus tetap menyala.

Makna Mendalam “Bale Nagi”

Bagian paling emosional dari homili ini adalah ketika frasa keramat orang Larantuka, “Bale Nagi” (pulang kampung), dimaknai ulang.

Harapan umat digambarkan dengan sangat puitis: seperti kerinduan pengungsi gunung Lewotobi, kesabaran seorang Lamafa (juru tikam paus) di Lamalera yang menatap samudera, ketelatenan gadis penenun di Ile Boleng, hingga doa petani di Otang Solor.

Mgr. Budi menegaskan kepada Uskup Hans, bahwa kepulangannya ke Larantuka (Bale Nagi) bukan sekadar nostalgia sentimentil untuk makan jagung titi atau sayur daun kelor. Bukan pula sekadar karena umat merindukan “putra daerah”.

Uskup Hans “Bale Nagi” untuk sebuah tujuan yang jauh lebih agung: berjalan bersama umat dalam rangkulan kasih Tuan Ma (Bunda Maria), untuk mewartakan Tuan Ana (Yesus Kristus).

Pada akhirnya, semua bermuara pada Unus Christus. Dialah satu-satunya Gembala yang akan mengantar kita semua pada perjalanan “Bale Nagi” yang sesungguhnya, pulang ke rumah Bapa, kembali ke dekapan Allah yang penuh kasih, sembari membawa dunia yang terluka dan merangkul kemanusiaan yang tersalib.

Selamat datang, Gembala baru. Selamat “Bale Nagi”, melayani dalam satu tubuh, satu roh, dan satu harapan.

 

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer