VATIKAN, Veritas Indonesia — “Jika kita tidak buta, memang benar ada begitu banyak penderitaan.” Demikian penegasan Paus Leo XIV saat membuka sesi pertama Konsistori Luar Biasa para Kardinal di Aula Paulus VI, Vatikan, Jumat (26/6). Pernyataan itu disampaikan sebagai tanggapan atas berbagai refleksi para kardinal mengenai tantangan dunia dewasa ini.
Mengacu pada renungan biblis Kardinal Grzegorz Ryś tentang perumpamaan Orang Samaria yang Baik (Luk. 10:30–37), Paus menegaskan bahwa kesepian dan penderitaan merupakan buah dari masyarakat modern. Karena itu, Gereja dipanggil bukan sekadar membuka pintu dan merayakan sakramen, tetapi juga menghadirkan ruang perjumpaan yang nyata, sehingga setiap orang dapat mengalami persekutuan dan belas kasih.
Dunia yang Terluka
Sebanyak 178 kardinal mengikuti sesi pembukaan yang diawali dengan madah Veni Creator. Setelah sambutan pembuka, Kardinal Ryś mengajak para peserta merenungkan sosok korban yang tergeletak di tepi jalan sebagai gambaran manusia masa kini.
Ia menguraikan berbagai bentuk luka yang dihadapi dunia saat ini: perang, kekerasan terhadap anak-anak dan kaum muda, perbudakan modern, kecanduan, kesepian, sekularisasi, serta penyalahgunaan agama. Menurutnya, Gereja dipanggil belajar dari Orang Samaria yang Baik, yang menunjukkan belas kasih, kedekatan, dan pengorbanan tanpa memandang identitas korban.
“Seorang imam atau Lewi pergi ke Bait Allah; tetapi Orang Samaria adalah Bait Allah,” ujar Kardinal Ryś, menegaskan bahwa belas kasih menjadi tempat perjumpaan sejati antara Gereja dan dunia.
Refleksi Para Kardinal
Dalam diskusi kelompok, para kardinal menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi umat manusia, antara lain polarisasi politik, disinformasi, meningkatnya kesepian, krisis keluarga, migrasi, sekularisme, krisis ekologis, serta menurunnya kepercayaan terhadap berbagai institusi.
Mereka juga menekankan pentingnya penghormatan terhadap martabat setiap pribadi, perlindungan bagi kelompok minoritas, dan pembangunan budaya dialog di tengah masyarakat yang semakin terpecah.
Gereja sebagai Rumah yang Menyambut
Seluruh kelompok sepakat bahwa Gereja dipanggil untuk semakin menampilkan wajah sebagai ibu yang menyambut, rumah bagi mereka yang terluka, serta saksi harapan di tengah dunia.
Sinodalitas kembali ditegaskan sebagai jalan pembaruan Gereja, sementara karya amal kasih, pelayanan kepada para migran, pendidikan, pembinaan panggilan, devosi populer, serta dialog ekumenis dan antaragama dipandang sebagai tanda-tanda harapan bagi masa depan.
Menutup sesi, Paus Leo XIV mengucapkan terima kasih kepada para kardinal atas semangat dialog dan partisipasi mereka. Beliau kembali menegaskan bahwa Gereja hanya dapat menjawab tantangan zaman apabila berani melihat penderitaan manusia dengan mata yang terbuka dan menghadirkan belas kasih Kristus di tengah dunia.





