Kebangkitan Iman dan Iman akan Kebangkitan

Dalam permenungan Sabda Allah hari ini, kita diajak merenungkan kebangkitan—bukan hanya tubuh, tetapi juga iman yang mungkin pernah rapuh. Jalan menuju kebangkitan tidak mudah; ada penderitaan dan salib. Namun, kita dipanggil untuk tetap berharap dan bersandar kepada Allah, sumber kekuatan sejati.


Renungan Minggu, 22 Maret 2026 — Minggu Prapaskah V
Bacaan: Yehezkiel 37:12–14; Roma 8:8–11; Yohanes 11:25a, 26.

Penulis      : P. Marcelino Bramantyoko Jie, SVD

“Akulah Kebangkitan dan Hidup…Percayakah engkau akan hal ini?”

Dalam Kitab Yehezkiel 37:12-14, Tuhan memberikan Roh-Nya kepada umat-Nya supaya memperoleh kebangkitan dan supaya mereka percaya kepada-Nya. Dalam Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma 8:8-11, jika kita hidup seturut Roh Allah, maka Allah akan membangkitkan kita oleh Roh-Nya yang diam di dalam diri kita.

Dalam kisah Injil Yohanes 11:25a.26, Maria dan Marta sedang dalam duka yang mendalam atas kematian Lazarus saudara mereka. Air mata mereka adalah lambang nestapa. Bahkan Yesus masygul akan peristiwa ini serta membangkitkan Lazarus yang sudah mati terbaring di kubur selama empat hari.

Mukjizat ini membuat banyak orang yang melihatnya menjadi percaya kepada Allah. Dengan demikian, kebangkitan itu tidak hanya membawa perubahan fisik saja tetapi juga perubahan iman.

Kebangkitan Iman dari Duka dan Nestapa

 Injil Yohanes mengisahkan ketika Marta mendengar bahwa Yesus datang, ia pergi menemui-Nya dan melontarkan keluhan dari pengharapannya yang tidak terwujud, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” Ungkapan ini merupakan gambaran keluhan tatkala kita mengalami situasi keputusasaan sebagai manusia. Bagaimana kita dapat berkata bahwa sekiranya Tuhan berada di sini, padahal kita tahu bahwa kehadiran dan kuasa-Nya melampaui ruang dan waktu? Saat inilah iman kita didewasakan.

Perbincangan selanjutnya antara Yesus dengan Marta mendewasakan iman Marta. Ia dibawa kepada pengenalan akan Tuhan yang lebih mendalam.  Ungkapan Marta bahwa ia percaya Yesus adalah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia menggambarkan kebangkitan imannya. Kebangkitan iman membawa perubahan iman dan cara berperilaku yang konkret, dari tidak percaya menjadi percaya, dari penderitaan menjadi pengharapan.

Iman akan Kebangkitan Badan

Dalam Gereja, kita percaya akan adanya kebangkitan badan. Iman akan kebangkitan berdasar pada Yesus yang bangkit, di mana pada saat Ia wafat, Ia menghadapi kematian untuk memberikan kehidupan kekal bagi manusia pada akhir zaman. Dalam kebangkitan-Nya, Ia mengaruniakan kehidupan sebagai kemenangan atas maut.

Kisah Lazarus yang bangkit mengungkapkan antisipasi dari kebangkitan dalam misteri Paskah, di mana kehidupan diubah bukan dimusnahkan. Allah tidak menghendaki manusia binasa. Itulah sebabnya kita perlu percaya akan kebangkitan sama seperti orang-orang yang telah melihat Lazarus yang bangkit dan menjadi percaya.

Dengan dasar ini kematian bukanlah akhir dari segalanya, karena iman akan kebangkitan membantu kita untuk menyadari panggilan kita dan menjalani kehidupan yang penuh di dalam Roh, sebab jika kita memiliki Roh Kristus, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu (Roma 8:11).

Dua Pesan Penting!

Seluruh permenungan ini mengajarkan kepada kita dua hal, pertama kesadaran untuk berbuat kebaikan selama hidup. Marilah kita arahkan pikiran dan perbuatan kita kepada cinta kasih kepada sesama. Bangunlah komitmen sederhana tapi nyata, seperti misalnya mulai mengurangi kebiasaan berkata kasar atau maki, kebiasaan berbohong, tetapi bisa mulai membiasakan menyapa dengan tulus, belajar untuk berkata “terima kasih”, “minta maaf” serta memaafkan.

Kedua menghadapi penderitaan dengan pengharapan. Dari kisah Maria dan Marta, dapat kita lihat bahwa kebangkitan iman terjadi pada saat yang tidak kita duga, bisa jadi pada saat kita sedang berduka atau menderita. Bahkan Yesus juga melewati penderitaan terlebih dahulu sebelum bangkit pada hari ketiga. Inilah yang disebut dukacita yang mendahului kemenangan.

Untuk itu bagi kita orang Katolik, penderitaan merupakan bagian dari salib hidup yang harus dipikul. Ketika kita menderita, entah itu karena sakit, sedih, gagal, depresi, duka, susah, atau apa pun itu, ingatlah bahwa Yesus dulu pernah mengalami salib yang lebih berat. Berharaplah kepada Allah. Pada dasarnya tidak ada yang dapat memisahkan kita dari pengharapan akan Kasih Allah, karena Rasul Paulus mengatakan bahwa kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan dan pengharapan itu tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita (Roma 5:3-5).

Maka kita tidak perlu berandai dengan berkata, “Tuhan sekiranya Engkau berada di sini…” tetapi hadapilah penderitaan dengan penuh pengharapan dengan berkata, “Tuhan aku tahu bahwa Engkau berada di sini dan bahwa Engkau mengasihiku. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau selalu besertaku. Roh-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkaulah sumber pengharapanku.” – Amin.

P. Kasmir Nema, SVD
P. Kasmir Nema, SVD
Pemimpin Redaksi sekaligus Direktur Media Veritas Indonesia. Jurnalis dan Koordinator Umum Media dan Komunikasi Serikat Sabda Allah (SVD) yang berbasis di Roma. Kontributor untuk Vatican News dan Radio Veritas Asia (RVA). Profil akademik: ResearchGate Profile

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer