VATIKAN, 15 Februari 2026 — Veritas Indonesia – Menyongsong Rabu Abu yang jatuh pada 18 Februari mendatang, Paus Leo XIV merilis Pesan Prapaskah 2026 bertajuk “Mendengarkan dan Berpuasa: Prapaskah sebagai Waktu Pertobatan.”
Dalam pesan tersebut, Bapa Suci mengajak umat Katolik sedunia untuk tidak sekadar menjalankan ritual tahunan, melainkan menempatkan kembali “Misteri Allah” sebagai kompas utama dalam menata hati yang kian bising oleh hiruk-pikuk zaman.
Mendengarkan: Menangkap Detak Jantung Sesama
Paus menegaskan bahwa pertobatan sejati tidak dimulai dari tindakan, melainkan dari telinga yang terbuka. Mengambil inspirasi dari kisah panggilan Musa (Kel 3:7), Paus mengingatkan bahwa Allah adalah Pribadi yang pertama-tama mendengar.
“Allah mendengar jeritan umat-Nya. Kita pun dipanggil untuk mendengar dengan cara yang sama: bukan sekadar menangkap suara, tapi merangkul penderitaan,” tulis Paus. Beliau menekankan bahwa Kitab Suci adalah alat navigasi untuk mengenali suara kaum miskin yang sering kali tenggelam dalam sistem politik dan ekonomi yang tuli terhadap kemanusiaan.
Puasa: Melawan Rasa Puas Diri
Lebih dari sekadar menahan lapar, Paus Leo XIV mendefinisikan puasa sebagai “latihan keinginan.” Mengutip Santo Agustinus, beliau menjelaskan bahwa puasa adalah cara menjaga agar rasa lapar akan keadilan tetap menyala.
“Puasa membebaskan kita dari sikap puas diri yang mematikan,” tegas Bapa Suci.
Paus mengingatkan agar puasa tidak menjadi ajang “kebanggaan rohani” atau sekadar diet religius. Puasa yang otentik harus bermuara pada gaya hidup sederhana yang memampukan seseorang untuk berbagi ruang dan rezeki dengan mereka yang berkekurangan.
“Puasa Kata”: Tantangan di Era Digital
Salah satu poin paling tajam dalam pesan tahun ini adalah seruan Paus untuk melakukan pantang dari kata-kata yang melukai. Di tengah maraknya polarisasi dan budaya hujat, Paus meminta umat untuk berpuasa dari:
- Penghakiman tergesa-gesa dan fitnah.
- Narasi kebencian di media sosial.
- Pembicaraan buruk (gosip) tentang mereka yang tidak hadir.
Sebagai gantinya, beliau mendorong tumbuhnya “bahasa berkat”—kata-kata yang membangun harapan, kelembutan, dan penghormatan, baik dalam lingkup keluarga maupun ruang publik.
Pertobatan Komunal: Membangun Peradaban Kasih
Menutup pesannya, Paus Leo XIV menekankan bahwa Prapaskah bukanlah proyek kesalehan individu semata. Merujuk pada Kitab Nehemia (Neh 9:1-3), beliau mengajak paroki dan komunitas basis untuk bergerak bersama.
Prapaskah harus menjadi rahim bagi lahirnya “Peradaban Kasih.” Komunitas Kristiani dipanggil menjadi ruang perlindungan bagi mereka yang menderita, di mana jeritan orang kecil tidak lagi dibalas dengan keheningan, melainkan dengan tindakan nyata yang berakar pada perdamaian.








