Kamis Putih: Ekaristi Yang Menggerakkan, Kasih Yang Menjadi Nyata

Kamis Putih bukan sekadar perayaan liturgi, tetapi undangan untuk menguji keaslian iman: apakah Ekaristi sungguh mengubah hidup, atau berhenti di altar? Laporan ini menghadirkan perayaan yang hidup—sekaligus menggugat.


Laporan: Frater Bryan Kewuan

RITAPIRET – Veritas Indonesia- Pada Kamis, 2 April 2026, komunitas Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret merayakan Misa Malam Kamis Putih—bukan sekadar mengenang Perjamuan Malam Terakhir, tetapi menghadirkan kembali inti iman Kristiani: Ekaristi dan kasih yang berkorban.

Kapela Agung dipenuhi umat dan para frater yang datang dengan antusias. Liturgi berlangsung dalam suasana yang khidmat namun hidup. Nyanyian frater tingkat V bersama para karyawati mengalun indah, membuka ruang hening yang menuntun umat masuk dalam permenungan akan kasih Kristus yang total—kasih yang memberi diri sampai tuntas.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh RD. Cesar Reda. Dalam homilinya, ia menegaskan bahwa Ekaristi bukan sekadar ritus yang diulang, tetapi sumber dan puncak kehidupan iman. “Dalam Ekaristi, kita tidak hanya mengenang, tetapi mengambil bagian dalam kasih Kristus yang nyata,” tegasnya.

Ia kemudian menggarisbawahi tiga pilar utama perayaan Kamis Putih: merayakan, melakukan, dan mewartakan.

Merayakan berarti masuk ke dalam peristiwa kasih Yesus—bukan sebagai penonton, tetapi sebagai mereka yang terlibat. Perjamuan Malam Terakhir bukan sekadar kenangan historis, melainkan peristiwa iman yang terus hidup. Di sana, kasih lahir dari relasi persaudaraan yang nyata, bukan dari simbol yang kosong.

Melakukan berarti membiarkan kasih itu bergerak keluar dari altar. Kasih tidak boleh berhenti dalam liturgi. Ia harus menjelma dalam tindakan konkret—menjangkau mereka yang terluka, tersingkir, dan dilupakan. Tanpa tindakan, Ekaristi berisiko menjadi perayaan yang indah, tetapi tidak mengubah apa-apa.

Mewartakan berarti menghadirkan kasih itu ke tengah dunia. Setiap orang beriman dipanggil menjadi saksi—bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui keberanian untuk bersikap dan berpihak. Dalam dunia yang sarat luka dan ketidakadilan, pewartaan kasih menuntut keberanian profetis, bukan kenyamanan religius.

Lebih jauh ditegaskan, kasih Yesus adalah kasih yang otentik—lahir dari hati yang rela memberi tanpa syarat. Kasih seperti ini tidak berhenti pada niat baik, tetapi berbuah dalam solidaritas nyata. Di sinilah Ekaristi menemukan maknanya yang terdalam: bukan hanya dirayakan, tetapi dihidupi.

Kamis Putih, dengan demikian, bukan hanya cermin, tetapi juga panggilan. Ekaristi yang dirayakan menuntut konsekuensi: hidup yang diubah, hati yang dibuka, dan keberanian untuk mengasihi secara nyata—terutama ketika itu tidak mudah.

Sebab pada akhirnya, iman yang sejati tidak hanya tampak di altar, tetapi teruji dalam kehidupan.

P. Kasmir Nema, SVD
P. Kasmir Nema, SVD
Pemimpin Redaksi sekaligus Direktur Media Veritas Indonesia. Jurnalis dan Koordinator Umum Media dan Komunikasi Serikat Sabda Allah (SVD) yang berbasis di Roma. Kontributor untuk Vatican News dan Radio Veritas Asia (RVA). Profil akademik: ResearchGate Profile

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Terbaru

Populer